Focus Group Discussion FITK UIN SU Medan: Kurikulum PAI di Madrasah Tidak Menyemai Benih Radikalisme


Diterbitkan pada:

Sepanjang sejarah pembelajaran Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia, baik di Madrasah maupun di Sekolah, tidak ditemukan adanya conten (isi) kurikulum yang mengarah kepada radikalisme. Selama NKRI berideologi Pancasila, Kurikulum PAI mutlak perlu diajarkan, sebab nilai-nilai Islam ajaran itu mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan wawasan kebangsaan. Pada masa orde baru, Kurikulum PAI telah menunjukkan perannya membantu Pemerintah untuk mengikis paham atheis di wilayah nusantara, demikian ungkapan Prof.Dr.Haidar Putra Daulay,MA dihadapan peserta Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di Gedung Pascasarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN SU Medan pada Selasa (17/12).

kurikulum-pai-tidak-menyamai-radikalisme-amiruddin-siahaan

Dr. H. Amiruddin Siahaan, M.Pd. sebagai Keynote Speaker menyatakan kegiatan ini merupakan wujud dari kepedulian dan tanggung jawab bersama untuk memelihara kelangsungan Pendidikan Agama Islam, baik di madrasah, sekolah, maupun pesantren.

“Sebagai lembaga yang berperan melahirkan guru-guru PAI, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SU memiliki tanggung jawab membebaskan para guru dari perilaku dan tuduhan radikalisme”.

Ungkap Amiruddin Siahaan.

Pembicara lainnya, Guru Besar Sejarah Pendidikan Islam UIN SU Medan Prof. Dr. Hasan Asari, MA mengungkapkan betapa pentingnya mengajarkan seluruh bagian sejarah dalam Kurikulum PAI. Memenggal bahagian tertentu untuk tidak ajarkan, seperti materi “Khilafah dan Perang”, merupakan sikap yang tidak jujur terhadap generasi pelajar. Belajar ‘Sejarah Khilafah’ bertujuan membangun sikap moderat dan terbuka dalam menyikapi perbedaan dan alternatif pemilihan pemimpin negara. Sedangkan belajar ‘Sejarah Perang’ bertujuan membangun pemahaman perang adalah alat, bukan tujuan; perang adalah pilihan terakhir; dan perang ada di dalamnya etika kemanusiaan yang perlu dijunjung tinggi.

Selain itu Pembicara Ketiga Sekretaris MUI Sumut Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA memaparkan bahwa kata “khilafah” tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an hanya ada kata “khalifah”, itu pun tidak mengandung sedikitpun dengan konotasi politik, dan tidak perlu diragukan pembelajarannya di madrasah atau sekolah. Pembicara Keempat Guru MAN 1 Medan Rahmad Jamil,M.Pd memandang bahwa Kurikulum Fikih yang memuat tentang Khilafah bukan menekankan pada bentuk negara, tetapi lebih menekankan nilai-nilai pemerintahan yang menjunjung tinggi sikap patriotisme, humanis, dan cinta tanah air. Karena itu, materi khilafah penting diajarkan, sebab khilafah yang dimaksud bukan seperti bentuk negara yang dipahami oleh Hizbut Tahrir Indonesia.

Focus-Group-Discussion-FITK-UIN-SU-Medan

Ketua Panitia Seminar Drs. Makmur Syukri, M.Pd menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membedah isi Kurikulum PAI di Madrasah sekaligus membangun “komitmen bersama” antara Guru Madrasah dan Dosen FITK UIN SU untuk mengembangkan strategi pembelajaran PAI yang lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai ajaran Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, pada tanggal 5 Desember 2019 sudah digelar FGD untuk perwakilan Guru-guru Madrasah se-Sumatera Utara di Ruang Dekan FITK UIN SU Medan.

Acara FGD ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara H. Iwan Zulhami, SH, M.AP, didampingi oleh Dekan FITK UIN SU Dr. H. Amiruddin Siahaan, M.Pd, Kabid Penmad Kanwil Kemenagsu H. Mustapid, MA, dan Kasi Kurikulum Muhammad Darwin, M.Pd. “Saya mengapresiasi kegiatan ini, dan diharapkan ke depan FITK UIN SU terus berkolaborasi dengan Kawil Kemenagsu dalam upaya menangkal radikalisme,” tutur Iwan Zulhami. Kegiatan FGD berlangsung dengan suasana diskusi interaktif dipandu oleh Moderator Dr. Mohammad Al Farabi, M.Ag dan diikuti oleh 50 orang peserta terdiri dari unsur Pimpinan FITK UIN SU, Ketua dan Sekretaris Program Studi di lingkungan FITK dan Guru-guru perwakilan Madrasah se-Sumatera Utara.

Tinggalkan komentar

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap