Konsep Tafsir Al-Mishbah Tentang Profesionalitas Guru


Diterbitkan pada:

Kata guru adalah salah satu kata yang sangat populer dan sering diucapakan manusia, walaupun dengan bahasa yang beragam. Karena, kebutuhan akan keberadaan guru adalah sangat penting bagi manusia. Tidak akan ada peradaban di bumi ini, tanpa keberadaan sosok guru. Itulah sebabnya, sebelum nabi Adam diturunkan ke bumi dan membangun peradaban, terlebih dahulu dia belajar kepada Allah swt. sebagai “Guru” pertama. Seperti yang disebutkan dalam surta al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi:

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Dalam setiap proses pembelajaran, selalu ada dua pihak yang terlibat secara langsung; yaitu guru dan murid. Oleh karena itulah, proses yang dilakukan keduanya disebut belajar dan mengajar atau sering disingkat dengan PBM. Jika salah satu dari keduanya tidak ada, maka proses belajar dan mengajar tidak akan terjadi. Selanjutnya, jika salah satu dari keduanya tidak memenuhi persyaratan yang dituntut dari keduanya, maka sekalipun prosesnya terjadi namun hasilnya tidak akan dicapai secara maksimal.

Dengan demikian, demi tercapainya hasil proses belajar dan mengajar dengan baik dan sempurna, maka perlu kedua pihak yang terlibat langsung memposisikan diri sebagaima mestinya. Dalam bahasa yang sederhana bisa dikatakan, bahwa demi tercapainya hasil terbaik dan maksimal dalam proses belajar dan mengajar maka dibutuhkan guru yang idel dan murid yang ideal. Guru yang idela adalah guru memiliki profesionalitas yang tinggi.

Profesionalitas guru merupakan seperangkat fungsi, tugas dan tanggung jawab dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus dibidang pekerjaannya dan mampu mengembangkan secara ilmiah disamping bidang profesinya. Dalam Islam setiap pekerjan harus dilakukan secara profesional dalam arti luas di lakukan secara benar. Itu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang ahli. Rasulallah saw. mengatakan bahwa bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggulah kehancuran.

إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرُ السَّاعَةُ (رواه البخاري

Artinya: Jika suatu urusan diserahkan kepada seseorang yang tidak ahli dibidangnya maka tunggulah kehancuran. (HR. Bukhari).

Kehancuran dalam hadits ini dapat diartikan secara terbatas dan dapat juga diartikan secara luas. Bila seorang guru mengajar tidak dengan keahlian, maka yang ”hancur”dalah muridnya/tunggulah kehancuran. Kehancuran dalam konteks hadis ini dapat juga berati tugas yang dilakukan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, namun dikerjakan apa adanya. Tentu hal ini tidak akan sesuai dengan tujuan pendidikan dalam Islam.

Guru profesional adalah guru yang senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan dalam interaksi belajar mengajar, serta senantiasa mengembangkannya kemampuannya secara berkelanjutan, baik dalam segi ilmu yang dimilikinya maupun pengalamannya. Dalam rangka mendukung terwujudnya suasana proses belajar mengajar yang berkualitas di Sekolah/madrasah diperlukan adanya guru yang professional. Karakteristik guru yang professional sedikitnya ditandai dengan 4 kompetensi dasar yang harus dimiliki dan dikembangkannya, yaitu: kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan sosial.

Alquran banyak mengungkapkan ayat-ayat yang berkenaan dengan empat kompetensi profesionalitas guru, maka ayat-ayat tersebut akan ditafsirkan melalui Tafsir Al-Misbah buah karya M. Qurais Shihab. Tafsir Al-Misbah memiliki cara pandang tentang empat kompetensi profesionalitas guru tersebut lewat kajian beberapa ayat-ayat Alquran, sebagai berikut:

Tinggalkan komentar

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap