Manajemen Sukses


Diterbitkan pada:

Pengembangan organisasi sebagai bagian perubahan paradigma organisasi perguruan tinggi bertujuan agar lebih efektif merealisir Tri Dharma Perguruan Tinggi. Upaya merealisir tujuan itu sebaiknya mengacu kepada perubahan paradigma organisasi sukses. Menurut Ashkenas et al (1995:7) paradigma organisasi sukses adalah sebagai berikut:

The Shifting Paradigm for Organizational Success

Old Success Factors

  • Size
  • Role clarity
  • Specialization
  • Control

New Success Factors

  • Speed
  • Flexibility
  • Integration
  • Innovation

Merujuk kepada pemikiran diatas, organisasi perguruan tinggi memang harus berorientasi dengan gerakan yang cepat, fleksibel, dapat berintegrasi, dan melakukan inovasi. Tidak lagi secara konservatif berorientasi kepada ukuran, peranan yang tetap, kekhususan dan pengawasan semata. Dengan menganut prinsip faktor-faktor kesuksesan yang baru, diharapkan organisasi perguruan tinggi mampu melakukan perubahan sehingga pengembangannya berjalan dengan baik agar organisasi menjadi efektif.

Menurut Etzioni (Robbins, 1996:53) “Keefektifan didefinisikan sebagai sejauh mana sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya”. Karena itu, upaya merealisir visi dan misi organisasi dilakukan secara terencana dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan dan situasi yang berkembang sehingga organisasi menjadi efektif. Perubahan dan pengembangan organisasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan setiap organisasi, tujuannya agar lebih efektif melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan tujuan pencapaian organisasi.

Perubahan dan pengembangan organisasi dilakukan dengan menggunakan analisis manajemen. Analisis manajemen ini akan berguna untuk mengetahui sumber daya yang dimiliki organisasi untuk dimanfaatkan bagi keunggulan organisasi. Menurut Sianipar dan Entang (2001:102) analisis manajemen merupakan satu penelusuran secara ilmiah keadaan multi faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi guna menentukan faktor kunci sukses dan strategi membangun keunggulan organisasi mencapai sasaran yang lebih besar.

amiruddin-sedang-berpidato

Sulit untuk melakukan perubahan dan pengembangan organisasi, jika kepemimpinan secara komprehensif tidak merdeka atau tersandera oleh sesuatu. Tersanderanya kepemimpinan oleh sesuatu, membuat pengambilan keputusan tidak utuh dan cenderung tidak adil. Adakalanya, karena tidak utuh dan tidak adil tersebut, personil cerdas, berprestasi dan bereputasi bisa menjadi personil katagori idle, atau menganggur.
Padahal, organisasi yang baik adalah jika dapat memaksimalkan potensi personil secara maksimal dan optimal. Apalagi personil yang pernah mencapai prestasi dengan mengangkat reputasi organisasi secara faktual. Personil seperti ini jika ditelantarkan akan membawa dampak yang tidak baik bagi personil tersebut, dan secara simultan akan menjadi preseden buruk bagi personil lainnya, karena beranggapan bahwa prestasi yang telah dicapai tidak dihargai secara proporsional.

Padahal, pencapaian yang telah diraih itu bukan hanya untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk kepentingan dan kebutuhan organisasi. Oleh karena itu, personil berprestasi inilah yang seharusnya mendapat promosi dan bukannya masuk ke dalam kategori idle dalam organisasi. Memperhatikan dan memperlakukan secara layak personil yang telah meningkatkan reputasi organisasi merupakan keniscayaan, dan itulah salah satu bentuk reward yang diberikan kepadanya.

Dalam hal ini perlu pemimpin yang telah memiliki self leadership, yaitu pemimpin yang telah mampu memimpin dirinya sendiri, sehingga lebih mudah untuk memimpin orang lain, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kemampuan memimpin bukan pekerjaan yang mudah, karena ini merupakan upaya untuk meyakinkan orang lain agar turut kepada visi dan misi yang telah ditetapkan.

pelatihan-karya-tulis-ilmiah

Perguruan tinggi adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kompetensi kelilmuan yang sudah mapan. Cenderung merdeka dalam mengambil keputusan akademik, tahu resiko apa yang akan dihadapi jika salah mengambil keputusan. Itulah sebabnya Helga Drumond mengatakan bahwa tugas manusia adalah berpikir dan mengambil keputusan.

Tidak ada keputusan yang diambil tanpa produk berpikir. Dengan demikian, semua hal yang diputuskan dalam mengelola perguruan tinggi adalah produk berpikir. Setiap jajaran dalam organisasi perguruan tinggi, dikelola secara mandiri dan merdeka, tidak tersandera oleh apapun. Semua ini dilakukan agar lulusan perguruan tinggi tidak bertentangan dengan visi dan misi perguruan tingginya, dan semua lulusan tersebut mampu mengembangkan dirinya sesuai kompetensi keilmuannya dan juga oleh minat dan bakat yang mengiringinya.

Tinggalkan komentar

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap