Ruh dan Ritme Yang Senafas


Diterbitkan pada:

Universitas Islam Negeri (UIN), IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) sebagai perguruan tinggi telah menjadi fenomena dalam pendidikan tinggi di Indonesia, ia merupakan sub-sistem dalam sistem pendidikan nasional. Kedudukannya sama dengan perguruan tinggi lainnya, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya sebagai perguruan tinggi harus terpenuhi sebagaimana mestinya. Karena itu, ketiga perguruan tinggi ini setiap saat melakukan penyesuaian dan perubahan sesuai dengan kebutuhan setelah melakukan prediksi dan estimasi terhadap lingkungannya.

Tuntutan untuk melakukan perubahan dan pengembangan organisasi bukan hanya merupakan tuntutan UIN, IAIN, STAIN an sich, tetapi sekaitan dengan tuntutan masyarakat yang kian kuat menuntut ketiganya agar melakukan sesuatu sehingga eksistensinya tetap terjaga dan tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini mempercayainya sebagai lembaga pendidikan tinggi utama, dan bukannya sebagai alternatif. Ketiganya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi agama konvensional, tetapi juga sebagai lembaga
pendidikan tinggi modern, yang mampu membaca tanda-tanda zaman, yang dapat menghadapi tantangan kehidupan yang berdimensi ukhrowi dan juga duniawi secara simultan.

amiruddin-foto-tim-asesor-ban-pt

UIN SU Medan, satu perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) yang melakukan perubahan dan pengembangan organisasi dari IAIN, yaitu IAIN ke-14 dari 14 IAIN yang ada di Indonesia pada saat itu, yang mulai berdiri sejak tanggal 19 November 1973 di Medan. Sebagai IAIN termuda, IAIN Sumatera Utara saat itu memiliki 4 fakultas, yaitu: (1) Fakultas Dakwah, (2) Fakultas Syari’ah, (3) Fakultas Tarbiyah, dan (4) Fakultas Ushuluddin, dan Program Pascasarjana jenjang strata 2 (S2) yang dibuka sejak tahun 1994, dan jenjang S3 yang dibuka
tahun 2004.

Setelah IAIN SU Medan bertransformasi menjadi UIN SU Medan, sejak 16 Oktober 2014 telah memiliki 8 fakultas. Penambahan 4 (empat) fakultas tersebut adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Sain dan Teknologi (Fak. SAINTEK), Fakultas Ilmus Sosial (FIS), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
(FEBI).

Suasana UIN SU Medan sejak memiliki 8 Fakultas, telah menjadikan UIN SU Medan ini dilirik oleh generasi muda yang telah tamat Madrasah Aliyah (termasuk pesantren), Sekolah Menengah Atas, dan juga Sekolah Menengah Kejuruan, menjadikannya sebagai pilihan utama. Pilihan generasi muda yang ingin menimba ilmu dan juga untuk menggapai masa depan yang cerah. Masyarakat sebagai stakeholders, sudah menyadari bahwa UIN SU Medan adalah perguruan tinggi yang dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Kekayaan UIN SU Medan, adalah karena semua program studi yang mencapai 61 buah merupakan program studi berbasis ilmu-ilmu agama Islam. Masyarakat menyadari bahwa lulusan UIN SU Medan memiliki pengetahuan agama yang baik, yang nantinya akan memudahkan pengamalan agama Islam secara utuh dan menyeluruh atau komptehensif. Dengan kondisi yang demikian itu lulusan UIN SU Medan dari berbagai
program studi yang dikelola delapan fakultas itu akan menghasilkan sarjana atau lulusan yang berpikiran jernih tentang agama, dan paham betul nuansa kehidupan beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lulusan (alumni) menjadikan agama sebagai inspirasi dan bukannya sebagai aspirasi.
Inilah keunggulan lulusan UIN SU Medan.

Sejak berdiri tahun 1973 (sudah 47 tahun), UIN SU Medan tekah memiliki tempat kuliah yang bersejarah, mulai kampus Jln. Sun Yatsen, kampus Sutomo, kampus Helvetia, kampus Tuntungan, dan dalam waktu dekat kampus Sena yang tak jauh dari Bandar Kuala Namu, dan juga kampus Tebing Tinggi. Kampus Sun Yatsen sudah tidak ada lagi karena dulu hanya menumpang dan telah pindah ke kampus Sutomo yang penuh historis, legendaris dan prestisius tersebut. Selanjutnya kampus Medan Estate menjadi kampus utama
karena tempat bertumpunya mahasiswa UIN SU Medan yang telah mencapai 27.000 orang. Suatu jumlah yang tak terbayangkan ketika penulis kuliah pertama kali pada tahun 1979 di Fakultas Tarbiyah.

Jika mengingat itu semua, maka kenangan kampus historis, legendaris, dan prestisius itu menjadi kenangan yang sulit untuk diceritakan tapi penuh dengan kenangan yang luar biasa. Kesederhanaan dalam mengelola manajemen organisasi, manajemen kelas, dan manajemen kemahasiswaan, telah membentuk karakter lulusan yang tahan banting, lulusan hampir tidak ada yang menganggur karena banyak Kementerian dan Lembaga yang menerimanya sebagai pegawai.

amiruddin-foto-bersama-pakai-baju-toga

Waktu itu lulusan dikatakan sukses jika berhasil diterima di Kementerian atau Lembaga sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alhamdulillah saya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Rekan-rekan sekelas saya sekitar 85 % menjadi PNS, dan pada umumnya menjadi guru baik Kemenag maupun di Kemendikbud.

Lulusan kampus Sutomo memiliki mazhab Sutomo (istilah saya), dengan karakter sederhana, lugas, cerdas, cinta NKRI, dan taat menjalankan ajaran Islam secara konsisten. Dosen yang mengajar belum banyak yang lulusan program magister dan doktor, baik dalam negeri maupun luar negeri, tetapi keilmuan mereka tidak diragukan, demikian juga integritas diniyah dan ilmiyahnya.

Saat ini mahasiswa terbanyak adalah lulusan Medan Estate, atau mazhab Medan Estate (istilah saya), mereka ini generasi milineal, dengan karakter cerdas, terbuka, menguasa teknologi informasi, kuat beribadah, cinta NKRI, berkomunikasi dengan pola karakter milineal, paham betul tentang HAM, café salah satu tempat favoritnya, dididik oleh pendidik yang telah lulus program magister dan doktor baik lulusan dalam dan luar negeri, manajemen organisasi perguruan tinggi lebih modern, SOP semakin kuat diterapkan, proses belajar dan pembelajaran serta pendataan telah menggunakan sistem on line, dosen sebagai tenaga pengajar semakin banyak dengan latar belakang pendidikan yang beragam baik dalam maupun luar negeri, ditambah jumlah guru besar yang semakin meyakinkan, dan banyak lagi yang semakin memudahkan proses pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.

Bagaimana nantinya dengan kampus tuntungan dengan mazhab tuntungan (istilah saya)? Tentu waktu lah yang akan mencatatnya. Kampus tuntungan adalah kampus ideal yang berskala internasional, yang diharapkan lulusannya juga adalah lulusan yang bertaraf internasional, namun tetap memiliki
integritas diniyah dan ilmiyah yang kuat.

amiruddin-foto-bersama-kajur-magister-pai-mpi

Diperlukan manajamen organisasi yang kuat, berotot, manusiawi, dan menjadikan stakelholders sebagai pelanggan utama. Edward Sallis sejak 1994 telah mengemukakan bagaimana harusnya memperlakukan stakelholders utama secara tepat dalam bukunya yang berjudul Total Quality Management in Education. Buku ini bacaan wajib bagi mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegiruan UIN SU Medan.

Sedangkan kampus Sena masih dalam urusan untuk menjadi milik UIN SU Medan secara utuh. Adapun kampus Tebing Tinggi sepertinya lebih cepat digunakan untuk kepentingan eksistensi UIN SU Medan sebagai universitas. Kehadairan kampus-kampus ini harus dikelola dengan baik berdasarkan visi dan misi UIN SU Medan.

Dalam hal ini diperlukan penyusunan Rencana Induk Pengembangan (RIP), dan dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Strategis (Renstra) pada tingkat universitas, sehingga seluruh fakultas dapat menindaklanjutinya, dan Langkah selanjutnya adalah pengembangan program studi berbasis akreditasi.

Penyusunan RIP dan RENSTRA salah satunya untuk memastikan pembiayanaan dan fasilitas. Menurut Johnson, Rush dan Lybrand, et al, (1995) manajemen pembiayaan dan fasilitas perguruan tinggi memerlukan rencana tindakan (plan of action) dalam bentuk rencana strategis sebagai berikut:

  1. Evaluasi rencana induk yang tertuju pada enrollment, perubahan program dan kemampuan dana yang realistik.
  2. Mengintegrasikan perencanaan stratejik keuangan dan perencanaan sumber daya manusia dengan perencanaan fasilitas.
  3. Mengembangkan rencana stratejik fasilitas dengan fleksibel untuk menciptakan inovasi pada masa depan dalam proses belajar dan penelitian.

Akreditasi adalah pencapaian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, semua anggaran harus berbasis akreditasi, dan akreditasi sebagai pilar atau penyangga organisasi ada di program studi. Dengan demikian perlunya program studi dikelola oleh mereka yang memiliki ilmu yang sesuai dengan program studi tersebut agar ruh pengelolaan senafas dengan ritme pencapaian tujuan. Semoga!

Tinggalkan komentar

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap